Derita “Mama-Mama Papua” Dalam Terang “ Mater Dolorosa”

Derita “Mama-Mama Papua” Dalam Terang “ Mater Dolorosa”

Wacana mengenai eksistensi Sta. Maria dalam habitat Gereja Katolik-Roma bukan merupakan sesuatu yang asing lagi (Bdk. R. Soedarmo, 2001, hlm. 173). Berkat kiprah dan dedikasinya dalam merealisasikan karya keselamatan Allah melalui kesediaaan dan kesetiaannya menjadi Bunda Kristus, (Luk. 1:38). Maria tercatat sebagai salah satu orang Kudus yang paling besar dan mendapatkan banyak gelar teologis, salah satunya Maria Bunda Berdukacita atau Mater Dolorosa (Katolisitas Indonesia, Santa Maria Yang Berdukacita, http://katolisitas-indonesia.blogspot.com/2012/09/santa-maria-berdukacita.html, Jumat-10 - 2021. Pukul. 8:38 wit).

Maria sebagai Bunda Yang Berdukacita, dalam perspektif iman Katolik itu merupakan konsekuensi logis atas kesediaan dan kesetiaannya untuk menjadi Bunda Kristus, (Bdk. Luk. 1:34; Mat. 1:19). Kedukaan Maria tersebut sangat konkret dalam tujuh kedukaan yang diramalkan oleh Nabi Simeon, (Luk. 2:34-35). Tujuh kedukaan tersebut antara lain; Kedukaan Saat Simeon Meramalkan Apa Yang Akan Terjadi Pada Yesus, Kedukaan Pada Waktu Pengunsian Ke Mesir, Kedukaan Saat Ia Dan Yosep Mencari Yesus di Yerusalem, Kedukaan Saat Bertemu Yesus di Jalan Salib, Kedukaan Saat Yesus di Salibkan Dan Wafat, Kedukaan Saat Yesus Dimakamkan, (. P. William P. Saumders, Santa Perawan Maria Berduka, http://yesaya.indocell.net, Jumat, 29-10-2021. Pukul. 8:39 wit).

Tujuh Duka Maria di atas diibaratkan oleh Simeon seperti Jiwa Yang ditembusi Pedang Tajam, (Luk. 2: 35). Walau perih, sakit, dan piluh, bahkan hampir wafat bersama Putra-Nya, Maria tetap dengan tulus ikhlas menyimpan semua perkara tersebut dalam hati dengan penuh ketenangan, keheningan dan kedamaian. Maria sangat yakin teguh bahwa semua peristiwa itu adalah bagian dari rencana Allah dan karya keselamtan-Nya di dunia dari dosa dan maut, (A. Bekker SVD, 1988, hlm. 145). Maka Maria juga percaya bahwa Allah senantiasa menyertainya. Hal ini terlihat jelas dalam ungkapan imannya pada awal memperoleh penampakan dari malaikat Gabriel, (Luk. 1:37-38). Tanpa totalitas dan loyalitas Bunda Maria ini barangkali karya keselamatan Allah muskil terwujud di dunia melalui Putra-Nya Yesus Kristus Sang Penyelamat dunia. Teladan Maria inilah yang membuatnya menjadi tokoh iman paling tersohor dalam Perjanjian Baru berdampingan dengan Abraham dalam Perjanjian Lama.

Dari Tujuh Duka Bunda Maria yang diramalkan oleh Simeon, salah satu duka Bunda Maria yang paling menyayat HATI dan menusuk RAHIM Bunda Maria ialah ketika ia melihat Putra-Nya Menderita, Sengsara dan Wafat di Kayu Salib yang pada saat itu merupakan lambang pengghinaan, (A. Bekker, hlm. 1460). Ibu mana yang tidak hancur hati dan rahimnya ketika melihat Putra-Nya yang tidak bersalah diperlakukan secara biadab sampai wafat mengerihkan bak penjahat besar pada Palang pengghinaan. Lebih menyakitkan lagi Maria sudah tahu dan sadar atas apa yang akan menimpah Putra-Nya. 

Kita dapat membayangkan betapa dilematis Maria saat itu, Maria bisa saja menceriterakan secara jujur dan terbuka akan segala sesuatu yang akan menimpah Yesus kelak berdasarkan ilham ramalan Simeon, namun disisi lain ia telah dengan sebulat hati mengakui kesediaan dan kesetiaannya sebagai hamba Tuhan untuk tekun mengikuti semua kehendak Allah sebagi Bunda Allah Putra. Maria benar-benar hancur saat itu secara fisik, ia tak berdaya, bahkan mau mati melihat penderitaan dan penindasan yang dialami Anak-Nya, tetapi secara batiniah ia juga sangat pasrah dengan semua kehendak Allah. Pilihan bijak Maria dan memang ini kelebihan imannya, yaitu adalah bahwa ia sama sekali tidak memprotes Allah, namun memilih untuk tenang, hening, dan diam secara bijaksana.

Barangkali serupa yang dialami dan digumuli oleh Sta. Maria Bunda Berduka Cita ketika melihat Putra-Nya dibantai secara membabibuta oleh Serdadu Romawi menyisahkan misteri mendalam yang teramat relevan dengan segala apa yang dialami dan digumuli oleh perempuan Papua, khususnya Mama-Mama Papua yang selaluh dan senantiasa bergumul dan berduka atas kematian putra-putrinya akibat kekejihan dan kekejaman Militer Indonesia (TNI-POLRI) yang membunuh mereka bak binatan buas atau hena buruan secara radikal, berandal, brutai, dan fatal. 

Kita bisa lihat saja betapa mendalam duka nestapa yang menerpa dan menguncang Hati dan Rahim Mama-Mama Papua di Paniai pada 16 Desember 2014 di mana 6 siswa sekolah ditembak oleh apparat Militer. Betapa dukanya Mama Yosepah Alomang “Kartini Papua” yang menyaksikan bagaiman anak-anaknya dibunuh oleh apparat militer. Bagaimana duka Mama dari anak Nopelianus Sonedegau yang melihatnya putranya ditersasar peluruh apparat gabungan TNI-POLRI hingga merobek perutnya dan mengeluarkan ususnya, juga orang tua Yohakim Mujijau yang melihat kesakitan putranya akibat selonsong tima panas yang menginap dua malam dalam tubuhnya, (https://suarapapua.com/2021/10/26/dua-anak-tertembak-dalam-kontak-tembak-tni-polri-dan-tpnpb-di-intan-jaya, Jumat, 29-10-2021. Pukul. 8:53 wit). Peristiwa ini, khususnya potret Nopelianus Sondegau yang dipangku oleh Ibunya, sangat serupa dengan peristiwa Yesus Diturunkan dari Salib dan Yesus dimakamkan dalam perhentian Jalan Salin yang ke-13 dan 14,  di mana tubuh Kristus dipangku oleh Bunda-Nya, Sta. Maria. Atau betapa hancur luluhnya hati dan Rahim dari Mama Sdr.Victor Yeimo yang melihat putranya sekalipun masih sakit parah dan kritis dipakasa oleh apparat militer lengkap dengan senjata untuk kembali ke balik jeruji besi yang kumuh, ( Dari Akun You Tube Kiri Keroman, Viktor Yeimo Saat Bertemu Mama Kandung di Rumah Sakit Dok 2 Jayapura, 1 Sep 2021, https://www.youtube.com/watch?v=jcShpT70qcE, 29-10-2021. Pukul. 9:02 wit). Peristiwa perjumpaan VY bersama Mama Maria Gobai ini serupa juga dengan Perjumpaan Yesus Bersama Ibu-Nya Sta. Perawan Maria di Jalan Salib pada perhentian keempat, Hati dan Rahim Bunda Maria tentunya sangat hancur luluh-lanta melihat apa yang dialamin oleh Putranya begitu pun Mama Maria Gobai saat berjumpa dengan Putranya, Victor Yeimo yang sakit kritis.

Gambaran yang paling menyayat dan menyilet HATI dan RAHIM “Mama - Mama Asli Papua” hingga hancur berkping-keping ibarat seperti ditembusi Tuju Anak Pana Runcing ialah ketika mereka menyaksikan anak-anak, cucu-cucu, dan cicit-cicitnya dibatasi ruang kebebasanya untuk menyuarahkan kebenaran, keadilan dan perdamaian. Ketiak melihat aksi damai mereka dibubarkan secara anarkis dan tragis oleh aparat keamanan, ketika ruang diskusi mereka dibredel, ketika semua perjuangan mereka dicap illegal dengan lebel-lebel stikmatis yang vulgar seperti KKB, KKSB, Separatis, Makar, Ekstrimis, dan Teroris. Ketika Kampung halaman mereka menjadi Daerah Operasi Militer, ketika mereka Menggunsi di atas tanah airnya sendiri, terlebih ketika mereka ditangkap, diculik, diperkosa, dan dibunuh secara radikal, brutal, berandal, dan fatal. Saat-saat inilah duka yang sempat dialami oleh Bunda Maria Dolorosa juga dialami oleh Mama-Mama Asli Papua. Kendati pun demikian kita jangan juga lupa bahwa selain mengalami penderitaan, penindasan, dan kematian badan, dalam misteri iman Yesus juga mengalai kebangkitan yang mulia. Sehingga jangan sampai dengan semua duka yang dialami dan digumuli semua orang asli Papua, khususnya Mama-Mama Asli Papua yang mengalami duka mendalam mesti meliki harapa yang besar bahwa dalam, oleh, dan hanya melalui Tuhan Bangsa Papua akan mengalami Kebangkitan dan mengalami Kerajaan Surga Yang Penuh Kedamaian itu di Bumi Cenderawasi.

Pendeknya jika kita perhatikan secara saksama dan merefleksikan itu secara mendalam atas relevansi Duka-Cita Sta. Maria dan Duka Nestapa “Mama-Mama Asli Papua” maka akan ada sebuah keterkaitan yang sangat sinigfikan. Bahwa Orang Asli Papua yang menjadi korban kejahatan aparat militer selama 59 tahun melalui, oleh, dan dalam militerisme ini merupakan Manivestasi Konkrit dari Derita dan Wafatnya Yesus Kristus di Kayu Salib akibat kebrutalan serdadu Romawi. Dan duka-cita yang dialami dan digumuli oleh Sta. Maria Bunda Yang Berduka-Cita atas kematian Putra-Nya di Kayu Salib juga teramat sinkron dengan duka nestapa piluh yang dialami dan digumuli oleh “Mama-Mama Asli Papua” yang selaluh dan senantiasa menyaksikan anak-anaknya dibantai dan dibunuh oleh aparat miiter Indonesia (TNI-POLRI). 

Jadi kematian Yesus di Kayu Salib merupakan manivestasi konkrit dari kematian OAP di ujung moncong senjata TNI-POLRI dan Duka-Cita Maria Dolorosa itu tidak lain dan tidak bukan merupakan manivestasi konkrit dari duka-cita “Mama-Mama Asli Papua”. OAP Katolik mesti merefleksikan semua hal ini sebab kekejaman dan keburtalan TNI-POLRI terhadap anak-anak kecil yang tidak bersalah, seperti Nopelianus Sondegau dan Yoakim Mujijau itu terjadi dalam bulan Oktober yang adalah Bulan Roasario, sehingga jangan melupakan semua persitiwa ini dalam butir-butir Rosario yang kita daraskan dengan penuh iman, harapan, dan cinta kasih, supaya ada kebangkitan dan kedamaian sejati yang terwujud di bumi Cenderawasi. 

Harapannya semoga seperti ending dari kisah Iman Maria Dolorosa yang walau menanggung tujuh kedukaan yang namun akhirnya oleh Putra-Nya sendiri, Maria Diangkat Ke Surga Dan Memperoleh Makotah Kemuliaan dari Putrah-Nya sendiri. Maka semoga kelak juga Mama-Mama Papua memperoleh Kemuliaan dan Kekudusan yang Berharga dari Putra-Putrinya sendiri, yakni terciptanya Kebenaran, Keadilan, dan Permadaian sejati semua orang di Papua Tanah Damai dan Tanah Surga melalui Kunjungan Komisioner Tinggi HAM PBB, Rekonsiliasi Damai (JDRP2), dan Dialog Damai Jakarta-Papua (JDP.

Penulis Adalah: Siorus Degei,  Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Abepura-Jayapura

ReferensiLAI. Cetakan Tahun 2015. Alkitab Deuterokanonika. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.Soedarmo R. 2001. Ikhtihar Dogmatik. Jakarta: Gunung Mulia.Bakker A. 1988. Ajaran Iman Katolik 2. Jakarta: PT Kanisius

Mama-Mama Papua Papua
Opini Papua

Opini Papua

Previous Article

Ragam Konflik Papua: Sebuah Surat Kunjungan...

Next Article

Maria: Mater Dolorosa Rakyat Intan Jaya 

Related Posts

Peringkat

Profle

Achmad Sarjono

Syafruddin Adi

Syafruddin Adi verified

Postingan Bulan ini: 27

Postingan Tahun ini: 82

Registered: May 23, 2021

Afrizal khoto

Afrizal khoto

Postingan Bulan ini: 20

Postingan Tahun ini: 88

Registered: Oct 25, 2021

Edi Purwanto

Edi Purwanto

Postingan Bulan ini: 14

Postingan Tahun ini: 50

Registered: Nov 8, 2021

Anton atong sugandhi

Anton atong sugandhi verified

Postingan Bulan ini: 12

Postingan Tahun ini: 28

Registered: Nov 25, 2021

Profle

Opini Papua

Pesan “Nabi Papua” Untuk Tanggal 1 Desember 2021   
Ada Dugaan Kecurangan Seleksi PPPK di Banyuwangi, Begini Modusnya
Pemilik Tempuh Jalur Hukum Setelah Satpol PP Tutup Sepihak Usaha Peternakan
Persiapan Porprov 2022, Tim Volly Putra Karangasem Bali Latih Tanding Bersama Tim Volly Putra Banyuwangi

Follow Us

Recommended Posts

Pengibaran Bendera Bintang Kejora Di Papua, Apa Masalahnya?
Pesan “Nabi Papua” Untuk Tanggal 1 Desember 2021   
Tony Rosyid: Dukung Anies, Elektabilitas Nasdem Naik
Siaran Pers JDRP2-007/sp/XI/2021
Harta Alam Melegalkan Kematian 'OAP'