Ensiklik Laudato Si Dan “Green State Vission West Papua”: Dua Dokumen Strategis Demi “Papua Tanah Surga Yang Damai”

Ensiklik Laudato Si Dan “Green State Vission West Papua”: Dua Dokumen Strategis Demi “Papua Tanah Surga Yang Damai”
Photo, salah-satu keindahan alam di papua.

Apakah tanah ini awalnya Eden, tak satu pun jiwa yang tahu, apakah tanah ini akhirnya Neraka tak satu pun jiwa yang tahu, seandainya daku panglima sorgawi, kanku pinta kepada Tuhan, agar bangsa ini tak sajikan harta, pastiku hidup damai selaluh, so banyak air mata yang telah menujur menyaksikan bangsaku hancur, terdiam kalbuku dan takkan kembali, alam terdiam jadi saksi, seandainya aku panglima sorgawi, kanku pinta kepda Tuhan, agar bangsa ini tak sajikan harta pastiku hidup damai slalu” (https://www.youtube.com/watch?v=-8o6NsYfpVU, Apakah Tanah Ini Awalnya Eden?, Kamis, 11-11-2021. Pukul. 22:39 wit). Lirik lagu yang melukiskan rintihan dan jeritan relung hati anak negeri Papua ini cukup jelas menegaskan sebuah kenyantaan bahwa Papua yang awalnya ‘Eden’ dan ‘Surga’ kini telah menjadi ‘Neraka’. Papua kini adalah “Neraka Besar Yang Jatuh Ke Bumi. Namun demikian di tengah kepastian menuju alam kepunahan, masih ada harapan untuk mengembalikan kesucian Papua sebagai “Surga Kecil Yang Jatuh Ke Bumi”

Ensiklik Laudato Si: Sumber Referensi Primer Revolusi Hijau di Papua

Sri Paus Fransiskus menerbitkan Ensiklik Laudato Si 24 Mei 2015 sebgai bentuk keprihatinan Gereja Universal dan untuk menjawab kerinduan, harapan, dinamika, dan kegundahan potret krisi ekologis global. Paus yang sangat menghayai spitualitas Santo Pelindung Alam Semesta demi keutuhan ciptaan ini menuangkan refleksi teologis Gereje Universal dalam merespon krisi ekologis yang menjadi-jadi menuju tapal batal ekosida, Ensiklik ini terdiri dari enam bab besar;

Bab Pertama, Apa Yang Terjadi Dengan Rumah Kita Bersama, mengambarkan fenomena kehancuran ekologis yang terjadi di dunia dan respon-respon yang masih lemah dalam menagani krisi ekologis. Bab Kedua, Injil Penciptaan; mengambarkan arti dan makna alam semesta dalam perspektif imam (refleksi teologis-ekologis kontekstual). Bab Ketiga, Akar Manusiawi Krisis Ekologis, menggambarkan sikap-sikap atau paham-paham besar yang mempengaruhi minsed umat manusia, lebih khusus para industrian, teknolog, dan orang-orang cerdas lainnya yang memajukan jaman tetapi juga mengkristalkan krisi ekologis bumi. Bab Keempat, Ekologi Integral, meletakkan ekologi atau alam semesta sebagai suata universe yang pararel dan tak terpisahkan, bahwa semua mahkluk yang menghuni alam semesta mesti hidup layaknya “Satu Keluarga”.

Bab Kelima, Beberapa Pedoman Orientasi Dan Aksi, merekomendasikasikan langkah-langkah rekonsiliasi dan dialogis ekologis sebagai upaya pemulihan dan pegudusan bumi. Bab. Keenam, Pendidikan Dan Spiritualitas Ekologis, menjelaskna langkah-langkah hidup baru yang lebih, ekologis, humanis, dan harmonis, (Paus Fransiskus, Laudato Si, 24 Mei 2015, hlm. 1-124)

Dengan semnagat Laudato Si Paus Fransiskus banyak tampil sebagai Duta Ekologis dan Humanis demi konsen menegakan kesimbangan ekologis dan pengahargaan Hak Asasi. Paus juga mengajak pada 31 Oktober 2021 kepada para pemimpin bangsa untuk bersolidaritas terhadap sesame yang paling rentan, khsusnya kepada peserta Conference Of Parties Ke-26 (COP26) yang akan diselengarakan pada 04 November 2021 di Glasgow, Skotlandia, (https://jubi.co.id/ini-pesan-paus-fransiskus-kepada-para-pemimpin-di-cop26/, Kamis, 11-11-2021. Pukul. 22:51 wit).

Secara kontesktual, idealnya Laudato Si ini diterjemahkan dalam agenda Lembaga-lembaga ekologi dunia di PBB, kemudian dihasilkan sebuah “Piagam Solidaritas Ekologis” dan dishare kepada negara-negara anggota resmi PBB. Dan di negar-negara tersebut “Piagam Solidaritas Ekolgis” dituangkan dalam undang-undang “Perlindungan dan Keutuhan Ekologi Bangsa”. Di Indonesia Menteri Lingunkan Hidup, Dr. Siti Nurbaya Bakar, M. Sc yang baru saja viral gara-gara cuitan di akun twetternya yang mengatakan “Pembangunan besar-besaran era Presiden Jokowi tidak boleh berhenti atas nama emisi karbon atau atas nama deforestasi” tulis beliau pada Rabu, 3 November 2021, padahal itu pasca Conference Of Parties ke-26 (CO26) yang membahas isu perubahan iklim, (https://nasional.kompas.com/read/2021/11/05/06255601/kontroversi-pernyataan-menteri-lhk-soal-pembangunan-dan-deforestasi?page=all, Kamis, 11-11-2021. Pukul. 22:54 wit). Barangakli Ibu Siti yang suka ‘Bakar-Bakar’ ini mau menepis dan memupuskan perjuangan United Liberation Movement West Papua yang juga saat itu hadir dan meluncurkan dokumen Green State Vission In West Papua atau dokumen Negara Hijau di Papua menanggapi krisis ekologi Papua yang di ambang ekosida.Namun terlepas dari semua kepentingan picik dengan dengan dalil murahan demi kesejaterahan kehidupan bangsa dan negara sudah saatnya Ibu Siti Nurbaya Bakar, yang adalah seorang professional dan pekerja keras di bindag ekologi mengandeng komunitas National Georapy yang banyak mengkampanyekan revolusi hijau, juga komunitas-komunitas “Go Green” lokal dan nasional, semisal para Duta Hutan Mangrove, Duta Flora Langka, Duta Fauna Langka, Komunitas My Trip My Adventure, Eart Hoer, Solidaritas Masyarakat Adat, dan Gerakan revolusi hijau lainnya untuk menjadikan Indonesia Sebagai Negara Hijau, Papua dan Kalimantan sebagai “Paru-Paru NKRI” mesti ditetapkan secara resmi dalam undang-undang sebagai “Dua Provinsi Konservasi Alam” sehingga iklim dan ekosistem bangsa Indonesia tetap sehat, terjaga, dan harmoni, dalam artian semua perusahan-perusahan besar yang beroperasi di sana baik secara legal maupun illegal mesti dibredel oleh Pemerintah demi keutuhan alam ciptaan. Hal ini bisa ditempunh oleh Ibu dan kawan-kawan jika benar-benar sayang dan cinta dengan tanah tumpah darah Indonesia sebagai “Nusantara Yang Kaya Raya” namun bila tidak, mala ketamakan elit dan investor oligarkis yang dipojokan tanpa dilalah dengan bijak, maka Ibu Situ, bahkan Presiden Jokowi akan dikenan sebagai “Iblis Ekologis Yang Sadis di Indonesia” terutama oleh orang Dayak di Kalimantan dan orang asli Papua di Papua.

“Green State Vission” Manifestasi Konkrit “Gita Laudato Si”

di PapuaSeperti telah disinggung di atas bahwa barangkali cuitan ibu Siti di akun twetternya yang terkesan berencana bersama Presiden Jokowi dan sejawatnya mau ‘Memperkosa’ secara habis-habisan sumber daya ekologi di Indonesia, terutama di Kalimantan Timur dan Papua-Papua Barat sehingga secara sarkastis dungu beliau menyinggun Benny Wenda dan rombongan petinggi ULMWP di Glasgow, Skotlandia, pada 04-11-2021 dipimpin interim Presiden dan tuan Benny Wenda, (https://www.youtube.com/watch?v=7rlxkhCx1Lo, Peluncuran Green State-West Papua #COP26 oleh Interim Presiden Hon. Benny Wenda, pada 07 November 2021, Kamis, 11-11-2021. Pukul. 22:59 wit).

 Visi utama dari peluncuran Green State Vission ini adalah mewujudkan menyelamatkan eksistensi ekologi global dan menciptakan “Negara Hijau” di West Papua. Selama ini kenyataan memberitahu bahwa eksistensi ekologis Papua terancam ekosida. Padahal relasi anatara manusia Papua dan alamnya teramat intim, alam; Gunung, Hutan, Laut, Muara, Sungai, Danau, dan Alam semesta diyakini secara filosofis oleh orang Papua sebagai “Seorang Ibu” atau ‘Mama’, bahkan keyakinan yang sama juga eksis di Indonesia secara umum, di mana bumi dianggap sebagai “Ibu Pertiwi”. 

Lebih jauh lagi secara antropologis-mitologis, eksis ragam totem di sebagian besar kebudayaan Papua yang meyakini bahwa suku bangsa A berasal dari Fuana atau Flora B, sehingga Suku A pemali untuk menggangu eksistensi dari Fuana atau Flora B tersebut, dan rupanya keyakinan semacam ini sangat kental sekali di kebudayaan Asia Timur, semisal Indonesia, bahwa Totemisme dan Mitologi Alam Kuno sangat dominan di 714 suku di Indonesia. Pendeknya pada hakekatnya orang asli Papua menggangap alam sebagai ‘Mama’ dan seluruh ciptaan sebaga “Keluarga/leluhur/moyang” (Bdk. https://www.facebook.com/A.Ibrahim.Peyon/, Visi West Papua Hijau (Green State Vission) dan Kesimbangan Hidup, Kamis, 11-11-2021. Pukul. 23:08 wit). Maka dari itu dapat dikatakan bahwa pokok pikiran kuno suku bangsa Papua, Visi dan Misi “Green State Vission In West Papua” dan Gita Laudato Si merupakan satu-keastuan konsep nilai solidaritas ekologis dan humanis yang teramat pararel harmoni. Bahwa wujud konkret dari pemikiran filosofis bangsa Papua sangat sinkron dan relevan dengan muatan ensiklik Laudato Si dan Visi-Misi dokumen “Green State Vission In West Papua”. Maka sudah layak dan pantas dua dokumen besar demi keselamatan “Mama Bumi Papua” tersebut disambut hangat oleh seluruh lapisan masyarakat Papua.

Pertama, Pemerintah Indonesia mesti menerjemahkan semangat Laudato Si, Green State Vission berdasarkan hasil Conference Of Parties ke-26 (COP26) , Deal Environment Etics, Isus Global Warming, dan isu-isu seputar krisis ekologis global dan penangulangannya kedalam Undang-Undang Dasar negara secara resmi, terlebih Presiden Jokowi dan Ibu Siti Nurbaya Bakar sebagai anak buahnya di bindang Ekologi mesti tampil sebagai prmotor dan duta solidaritas ekologis dan humanis (sebagimana teladan Paus Fransiskus ) di Indonesia, khususnya Kalimantan Timus dan Papua-Papua Barat, bukan sebaliknya hadir sebagai “dajal ekosida” Indoneisia.

Kedua, Ensiglik Laudato Si mesti menjadi sumber referensi primer semua pergerakan revolusi hijau di Papua, bahwa agenda untuk mengembalikan kesucian “Rahim Mama Bumi Papua” mesti bernafaskan pada Ensiklik Laudato Si.

Ketiga, eksekusi dokumen “Green State Vission” di Papua mesti melibatkan lembaga-lembaga pergerakan Cinta Bumi atau komunitas-komunitas “Go Green” semisal Earth Hour, Komisi Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan di 5 Keuskupan Papua dan dedominasi Gereja lainnya, aktivis lingkungan hidup Pemerintah maupun Swasta, Masyarakat Adat, dan pergerakan hijau lainnya. 

Keempat, menjadikan Gerekan Tungku Api Keluarga yang telah dirintis oleh Mgr. John Gayaibii Saklil (alm) sebagai reksa pastoral bersama di Regio-Papua dan Pasifik demi memagari eksistensi ekologis Papua dari ketmakan elit dan investor oligarkis.

Kelima, sebagai Bapa Solidaritas Ekologis dan Humanis, Duta Besar Vatikan Untuk Indonsia bisa menyurati Paus untuk berkunjung ke Indonesia, khsusnya di tanah Dayak dan Tanah Papua. Bahwa fitra dan marwa Paus Fransiskus sebagai Alter Saint Francis atau manifestasi konkrit dari St. Fransiskus bila lukisan ekosida dan genosida di Papua dan Kalimantan beliau alami dan gumuli.Keenam, Presiden dan semua pihak berwajib segera merespon Seruan Moral Pastor Katolik Se-Papua Demi Kemanusiaan, Keadilan, Kebenaran, dan Keselamatan Hidup Orang Asli Papua (OAP) di Atas Tanah Leluhurnya, pada Kamis, 11 November 2021 di Aula Gereja Katolik Kristur Terang Dunia Waena, Jayapura-Papua, (https://papua.tribunnews.com/2021/11/11/194-pastor-katolik-se-papua-serukan-moral-kemanusiaan-untuk-konflik-papua, Kamis, 11-11-2021. Pukul. 23:18 wit).

Penulis Siorus Degei, Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Abepura-Papua.

Papua
Opini Papua

Opini Papua

Previous Article

Dialog Sebagai Ibadah Yang Aktual

Next Article

Selayang Bercermin“Bongkar, Bongkar, dan...

Related Posts

Peringkat

Profle

Achmad Sarjono

Syafruddin Adi

Syafruddin Adi verified

Postingan Bulan ini: 27

Postingan Tahun ini: 82

Registered: May 23, 2021

Afrizal khoto

Afrizal khoto

Postingan Bulan ini: 20

Postingan Tahun ini: 88

Registered: Oct 25, 2021

Edi Purwanto

Edi Purwanto

Postingan Bulan ini: 14

Postingan Tahun ini: 50

Registered: Nov 8, 2021

Anton atong sugandhi

Anton atong sugandhi verified

Postingan Bulan ini: 12

Postingan Tahun ini: 28

Registered: Nov 25, 2021

Profle

Opini Papua

Pesan “Nabi Papua” Untuk Tanggal 1 Desember 2021   
Ada Dugaan Kecurangan Seleksi PPPK di Banyuwangi, Begini Modusnya
Pemilik Tempuh Jalur Hukum Setelah Satpol PP Tutup Sepihak Usaha Peternakan
Persiapan Porprov 2022, Tim Volly Putra Karangasem Bali Latih Tanding Bersama Tim Volly Putra Banyuwangi

Follow Us

Recommended Posts

Pengibaran Bendera Bintang Kejora Di Papua, Apa Masalahnya?
Pesan “Nabi Papua” Untuk Tanggal 1 Desember 2021   
Tony Rosyid: Dukung Anies, Elektabilitas Nasdem Naik
Siaran Pers JDRP2-007/sp/XI/2021
Harta Alam Melegalkan Kematian 'OAP'