Kontak Senjata Di Intan Jaya Sebagai Strategi Kapitalis Indonesia 

Kontak Senjata Di Intan Jaya Sebagai Strategi Kapitalis Indonesia 
Foto Google Maps

Kolonial Indonesia masih terus menjalankan agenda negara untuk meloloskan pertambangan Blok Wabu. OPM/TPNPB juga mengangkat senjata demi untuk pembebasan Papua Barat yang menuntut pengakuan kemerdekaan bangsa Papua Barat. Ditengah situasi ini rakyat sipil menjadi korban diatas korban baik orang asli Papua maupun pendatang. Masyarakat sipil hari-hari ini di Intan Jaya hidup dalam trauma yang menyakitkan. Konflik kekerasan di Intan Jaya masih terus terjadi mengapa? Tidak lain hanya memperluas starategi kapitalis “pembunuh” alam dan manusia di Papua terutama Intan Jaya.

Banyak aktifis Hak Asasi Manusia (HAM) sudah soroti kepada negara Indonesia dan antek-anteknya, tetapi mata mereka seakan buta untuk melihat nilai manusia demi menjunjungtinggi kemanusiaan maupun lahan subur milik masyarakat adat setempat. Mengapa demikian? karena trauma dengan ancaman militer Indonesia. Demi memelihara nyawa, baik presiden dan pejabat pemerintahan Indonesia-Papua yang ada jangan “mengiyakan” kekerasan dan konflik ini terus lanjut. Mereka yang taruhan nyawa walaupun dia pejabat pemerintahan kolonial Indonesia, hanya satu dua orang saja. Para bupati Meepagoo dan pejabat daerah lainnya sibuk dengan pemekaran-pemekaran pada hal rakyatnya hidup dalam trauma kekerasan dan konflik sejak Papua diintegrasikan dalam NKRI sampai detik ini.

Melirik situasi politik hari ini di Intan Jaya dan juga Ndugama, mau memberikan jawaban kepada kita semua bahwa situasi sangat memburuk, siapakah yang ciptakan? Kolonial Indonesia demi untuk meloloskan perusahaan Blok Wabu. Dulu awal masuk PT Freeport masuk, daerah sekitaran situ disingkirkan, diusir dengan pendekatan militer yang luar biasa. Sudah ada pengalaman itu namun pemimpin hari ini diam mengapa? Karena kemungkinan kecil dari saya tentu diancam oleh TNI/POLRI untuk pejabat Papua. Melihat hal ini, dalam benak muncul siapakah yang mati/meninggal sia-sia? Aneh tapi nyata, itulah realitas hari ini di Papua. Tetapi hal-hal demikian juga sering dibangun oleh pihak yang berjalan abu-abu atau netral, mencari menguntungkan diri tidak berpihak pada kaum yang dijajah oleh kolonial Indonesia.Tetapi penulis percaya masih banyak aktifis kemanusiaan yang selalu berpihak pada rakyat yang korban diatas tanah Papua, untukmu Sang Pencipta Papua memperhitungkan semua kebaikan.

Kasus Intan Jaya ini banyak menelan korban nyawa manusia, baik dipihak Indonesia maupun Papua. Supaya korban selanjutnya tidak ada lebih baik TNI/POLRI harus angkat kaki dari Intan Jaya dan juga Nduga lebih bagus lagi jika kalau semua daerah di Papua. Dalam hal ini juga penulis melihat TNI/POLRI keliru, mengapa demikian? Karena TNI/POLRI terus ke sana. Jika kesana ya otomatis “kamu” ciptakan konfliklah. Letak kesalahan ada disitu, maka sekali lagi TNI/POLRI harus angkat kaki, tikar, selimut dan lain sebagainya. Tetapi demi meloloskan perusahaan Blok Wabu itu, malah tentara nasional Indonesia mulai berhasil usir rakyat dari tanah asalnya, memang beberapa minggu lalu aman, tetapi TNI/POLRI dan OPM masih saling musuh. 

Supaya rakyat Papua tahu kalau TNI/POLRI juga menjungjung nilai harkat dan martabat manusia, maka hal yang mesti dilakukan adalah Yang Mulia Bapak Presiden Republik Indonesia dan menteri Pertahanan serta pimpinan-pimpinan TNI/POLRI tarik semua aparat gabungan itu dari Ndugama dan Intan Jaya. Kalau seandainya tambah pasukan TNI/POLRI berarti motto dan peraturan yang seringkan digaungkan di pos-pos TNI/POLRI tipu saja, ya kalau begitu harus wujudkan demi memelihara rakyat yang terus-menerus korban diatas tanah leluhur.

Menurut hemat saya TPNPB-OPM tidak mungkin menembak dengan sembarangan. Kalau TNI/POLRI masih mau supaya konflik terus ada untuk mengorbakan rakyat jelata silahkan kirim pasukan ke Ndugama dan Intan Jaya. Buktinya, sebanyak 40 personel polisi diterjunkan untuk memperkuat Polres Intan Jaya, di Papua. Penambahan bantuan ini mengantisipasi gangguan keamanan oleh kelompok kriminal bersenjata yang kerap terjadi di wilayah tersebut. Hal ini disampaikan Wakil Kepala Kepolisian Daerah Papua Brigadir Jenderal (Pol) Matius D Fakhiri saat ditemui di Jayapura, Senin (1/2/2021). Matius mengatakan, Polri akan menggunakan upaya penegakan hukum menghadapi aksi kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang berulang kali terjadi di Intan Jaya. Namun, upaya tersebut bukan dengan penindakan represif, melainkan secara terukur. Kesempatan lain Matius juga mengatakan”Polri tidak akan menggunakan cara kekerasan untuk menghadapi KKB. Apabila menggunakan cara kekerasan, hal ini akan dipolitisasi oknum tertentu untuk mengganggu situasi keamanan di Papua, ” kata Matius.  (https://www.kompas.id/baca/nusantara/2021/02/01).

Tetapi apa yang terjadi sekarang ndugama dan Intan Jaya? Masih ada kontak senjata setelah mengeluarkan pendapat seperti ini. Oleh karena itu penulis mau sampaikan sekali lagi jangan kirim pasukan kesana nanti menambah konflik. Kalau terus kirim maka TNI/POLRI meloloskan perusahaan Blok Wabu dan rencana pemekaran polres di Intan Jaya, sungguh jahat. Tentu ujung-ujungnya rakyat korban dan trauma gangguan psikologis, disitu juga persis mereka menjalankan pembunuhan cara berpikir secara manusia kepada orang asli papua.

Hemat penulis, semoga para pimpinan TNI/POLRI menarik pasukan yang ada di Ndugama dan Intan Jaya. Ditengah banyak isu yang melanda di Papua seperti rasisme, otsus dan pemekaran di Intan Jaya dan Ndugama konflik masih terus terjadi masyarakat hidup tidak aman hari ini. Selama penjahat itu dilindungi oleh Undang-Undang Indonesia, rakyat Papua pasti dibunuh disiksa, diperkosa, digiring diatas aspal, dikejar, dibantai dan bentuk penghinaan lainnya. Kepada yang Mulia Bapak Presiden Jokowi, mentri pertahanan dan para pimpinan-pimpinan TNI/POLRI dan BIN/BAIS stop sudah tindakan tidak manusiawi.

Sebagai orang asli Papua kami meminta silahkan tarik aparat gabungan TNI/POLRI di Nduga dan Intan Jaya.Kamu dengar jangan meloloskan sejumlah agenda Negara dengan membunuh dan mengusir dari tempat hidup rakyat. Apakah Negara dan pemerintahan punya obat sakit hati untuk sembuhkan luka? Siapakah yang bertanggungjawab atas semua? Kehancuran akal sehatmu adalah kehancuran sebagaimana manusia normal adanya.Sisahkanlah akal sehatmu untuk menyelamatkan jiwa manusia papua yang terus kalian bantai.Kalau kedepan ada kontak senjata lalu korban lagi berarti kalian tanggungjawab atas nyawa manusia itu di meja mana hai kolonial Indonesia? Sekali lagi kalian jangan bertahan di Intan Jaya dan Ndugama lama-lama. Jangan pergi pancing emosi OPM/TPNPB dan rakyat akar rumput, justru kalian pergi itu yang ada masalah ada sampai saat ini. Stop saling membunuh, rakyat Papua jelas akan hidup dalam ketakutan dan dengan demikian aktifitas kerja mogok, akibat ini juga akan ada penderitaan dalam hidup. 

Melihat banyak persoalan yang terus terjadi maka penulis mengharapkan para pihak yang bertikai ini bisa duduk bicara dan temukan solusi secara menyeluruh yang bisa diterima oleh semua pihak. Supaya  tanah kita Papua bebas dari model  tindakan kejahatan yang terus ada ini. Mari duduk bicara dan saling menghargai sebagai sesama ciptaan dari Allah. 

Untuk itulah Jaringan Damai Papua (JDP) terus mendorong dialog supaya terjadi dialog kemanusiaan bicara semua hal ini dengan melibatkan pihak ketiga yang netral. Dalam hal ini juga JDP bukan aktor tetapi fasilitator siap untuk mempertemukan semua pihak dan bicara teruma antara TNI/POLRI dan OPM/TPNPB. Mari rekonsilasi diri dan duduk bersama, supaya saling menjungjung tinggi nilai manusia. Jalan yang paling sederhana ini tentu membuahkan hasil yang besar yakni demi menciptakan Tanah Papua Damai yang abadi. Yang dinanti-nantikan oleh seluruh dunia. Pembaharuan hidup sangat penting, Negara Indonesia harus merendahkan diri untuk duduk dialog.

Penulis adalah: Frater Sebedeus G. Mote Mahasiswa STFT Fajar Timur dan Anggota Kebadabi Voice, Abepura - Papua

Intan Jaya Papua
Opini Papua

Opini Papua

Previous Article

Quo Vadis Mubes RD. Nato Gobai: Sebuah Catatan...

Next Article

Tatap Masa Depan “Bangsa Papua” Bersama...

Related Posts

Peringkat

Profle

Achmad Sarjono

Syafruddin Adi

Syafruddin Adi verified

Postingan Bulan ini: 27

Postingan Tahun ini: 82

Registered: May 23, 2021

Afrizal khoto

Afrizal khoto

Postingan Bulan ini: 20

Postingan Tahun ini: 88

Registered: Oct 25, 2021

Edi Purwanto

Edi Purwanto

Postingan Bulan ini: 14

Postingan Tahun ini: 50

Registered: Nov 8, 2021

Anton atong sugandhi

Anton atong sugandhi verified

Postingan Bulan ini: 12

Postingan Tahun ini: 28

Registered: Nov 25, 2021

Profle

Opini Papua

Pesan “Nabi Papua” Untuk Tanggal 1 Desember 2021   
Ada Dugaan Kecurangan Seleksi PPPK di Banyuwangi, Begini Modusnya
Pemilik Tempuh Jalur Hukum Setelah Satpol PP Tutup Sepihak Usaha Peternakan
Persiapan Porprov 2022, Tim Volly Putra Karangasem Bali Latih Tanding Bersama Tim Volly Putra Banyuwangi

Follow Us

Recommended Posts

Pengibaran Bendera Bintang Kejora Di Papua, Apa Masalahnya?
Pesan “Nabi Papua” Untuk Tanggal 1 Desember 2021   
Tony Rosyid: Dukung Anies, Elektabilitas Nasdem Naik
Siaran Pers JDRP2-007/sp/XI/2021
Harta Alam Melegalkan Kematian 'OAP'