Selayang Bercermin“Bongkar, Bongkar, dan Bongkar”“Kaki Boleh Kosong, Tapi Otak Tidak Kosong” (Universitas Kaki Abu)

Selayang Bercermin“Bongkar, Bongkar, dan Bongkar”“Kaki Boleh Kosong, Tapi Otak Tidak Kosong” (Universitas Kaki Abu)
Photo, Logo Istimewa Universitas Kaki Abu, West Papua.

Frasa yang fenomenal, ketika kita melihat secara mendalam sebuah kalimat yang teruntai senada dengan spesifikasi konteks yang tepat, maka kesan dan pesannya terlintas dalam benaknya secara pribadi. Kata orang menjadi kaki abu itu tidak sopan dan tidak terurus, sehingga nyaris terasa seperti ejekan yang terlontar bagi mereka yang suka berjalan dengan kaki kosong (kaki abu). Meskipun bagi mereka, kebahagiaan itu ketika kita berjalan bersama dengan bebas tanpa harus mengikuti aturan-aturan yang menekan atau menegaskan suatu keharusan. Tampil beda, rupanya menjadi kekhasan dari mereka (kaki abu).

Kaki abu itu seperti bagian dari kehidupan yang tidak bisa dilihat sebentar, kemudian memberi penilaian final, sebab kaki abu sendiri memiliki keunikan yang tidak pernah selesai. Jika kita menelusuri jalan-jalan yang sempit dan kerapkali terdesak, tetapi selalu saja ada jalan baru yang ditemukan dan didapati oleh mereka yang mengalaminya. Semua orang bisa mengalaminya, namun membutuhkan mental yang cukup kuat untuk bisa masuk lebih jauh ke dalamnya. Karena, kita dituntut untuk siap menerima perbedaan. Ada keterbukaan diri yang berasal dari dalam ke luar.

Upah dari seorang kaki abu adalah siap untuk tidak diterima dan menyangkal diri. Seorang kaki abu tertuntut untuk melawan kerasnya diri dan mampu melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh leluhur dan para pendahulu sebagai pandangan hidup. Kenikmatan dari seorang kaki abu ialah mampu memahami dirinya dengan cinta, entah dalam suka maupun duka. Ia dipanggil untuk menjadi pribadi yang selalu ceria dan bahagia dalam segala aspek kehidupan. Ketika orang lain sedang bersedih, seorang kaki abu akan lebih bersedih dari pada orang lain dan ketika orang lain bahagia, seorang kaki abu akan lebih bahagia dari pada orang lain yang bahagia.

Cinta adalah landasan perjuangan dan Persatuan adalah kekuatan. Keberadaan seorang kaki abu, selayaknya hadir seperti seorang pengembara yang tidak tahu di mana ia harus meletakkan kepalanya dan selalu berjuang dan membangun kesadaran tanpa batas baik kepada tumbuhan, batu, hewan, dan segala sesuatunya. Sebab, baginya langit adalah atap dan bumi adalah rumahnya. Perjalanannya seperti angin, yang tidak bisa dilihat tetapi memberikan rasa dalam makna dan nilai tertentu. Prinsipnya, lahir karena cinta, hidup karena cinta, dan matipun karena cinta. Tidak ada hal yang lebih berarti, selain menebarkan senyum kepada semua orang dalam rasa bahagia sepenuhnya.

Sekalipun seorang kaki abu terdesak oleh arus derasnya badai, tetapi ia akan berupaya untuk kembali menemukan dirinya dalam permenungan. Perjuangan sejati sebuah bangsa manusia ialah mencari dan terus mencari kesadaran dengan bertanya di dalam diri, bahwa siapa saya? saya mau ke mana? dan dari mana saya berasal?. Dengan ini seorang kaki abu dituntun untuk menemukan dirinya dalam perjuangan hidup. Seorang kaki abu memiliki watak yang penuh cinta terhadap siapa saja tanpa terkecuali. Pencipta itu kasih, sehingga kasihnya tentu tidak terbatas oleh apapun dan siapapun. Ia memberikan dirinya, nyawanya untuk bangsa dan tanah airnya. Tidak cemburu dan murah hati. Di dalam dirinya, hanya ada kata “siap”. Seorang kaki abu selalu mencari apa yang berguna bagi banyak orang dan menghindari sikap ego (mementingkan diri sendiri).

Baginya, sekolah bukan hanya ada di gedung-gedung saja, tetapi ada di dalam kehidupan. Seorang kaki abu mencari ilmu dalam kehidupan (sekolah kehidupan). Setia itu mahal baginya dan selingkuh itu murah. Wujud cinta yang diungkapkan dan dinyatakan, sesungguhnya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, namun serta merta dengan perbuatan juga. Sebab, makna yang bisa dicapai di dalamnya lebih jauh dan mendalam. Dengan kata lain, perjuangan itu terus berlangsung sebagai totalitas pengabdian dalam segala segi kehidupan.

Kehidupan mereka selalu dianggap tidak jelas, sebab penampilannya yang apa adanya. Dalam arti, seorang kaki abu selalu mampu membedakan antara penampilan yang harus dikurangi dan pendalaman yang harus ditingkatkan. Sehingga, justru keunikan dari seorang kaki abu ada dan hadir dalam tindak-tanduk demikian. Perjalanan yang sesuai merupakan sesuatu yang masih bisa diragukan dan dicarikan cara baru yang kreatif dan inovatif. Ada kala di mana, mereka dilatih untuk konsisten dalam segala tindakan dan ucapannya dengan mampu mempertanggungjawabkan keduanya.

Selain itu, hasrat terdalam dari seorang kaki abu ialah membongkar segala kepalsuan, ketidakbenaran, ketidakadilan, dan segala keburukan. Dengan kata lain, mereka membongkar cara pandang negatif yang sudah mengakar dalam seluruh dinamika kehidupan dan perjuangan. Dengan kata lain, kesan dan rasa benar terhadap bangunan besar pengetahuan dan pemahaman yang terbangun dalam kehidupan mesti dibongkar dari dalam ke luar dan dari luar ke dalam. Sehingga, pembaharuan itu dapat terjadi dan berdaya positif bagi semua orang.

Sekalipun mereka itu kaki kosong, tetapi otaknya tidak kosong. Sebab, mereka dibina dan dididik oleh konteks kehidupan yang keras. Seorang kaki abu selalu memiliki seribu macam cara untuk mampu dan bisa menelanjangi kehidupan yang terbilang kuat. Artinya, mereka mampu membuat orang normal menjadi gila, karena mereka. Selain itu, mereka mampu menguraikan kata-kata sedemikian rupa meyakinkan orang lain, ibarat petir yang menggelegar di siang hari.

Kebahagiaan terbesar dari seorang kaki abu adalah ketika Sang Fajar itu terbit dari ufuk timur dan menerangi lorong-lorong kegelapan. Sehingga, cahayanya dapat dinikmati dan dirasakan oleh semua orang. Baginya, tidak ada kebahagiaan yang lebih baik dari pada melihat Sang Fajar itu terbit di Pagi hari dan menerangi seluruh semesta Papua. Sebagai sang musafir, perjalanan panjang akan selalu dilalui entah melalui lembah, gunung, danau, kali, maupun pantai. Sebagaimana kebahagiaan dan kebebasan terbesar terus dicari dan dicari hingga akhir hayat.

Penulis, (Yosep R. Yatipai) 

Papua
Opini Papua

Opini Papua

Previous Article

Ensiklik Laudato Si Dan “Green State Vission...

Next Article

"Pendekatan Pembinaan Teritorial” Versus...

Related Posts

Peringkat

Profle

Achmad Sarjono

Syafruddin Adi

Syafruddin Adi verified

Postingan Bulan ini: 27

Postingan Tahun ini: 82

Registered: May 23, 2021

Afrizal khoto

Afrizal khoto

Postingan Bulan ini: 20

Postingan Tahun ini: 88

Registered: Oct 25, 2021

Edi Purwanto

Edi Purwanto

Postingan Bulan ini: 14

Postingan Tahun ini: 50

Registered: Nov 8, 2021

Anton atong sugandhi

Anton atong sugandhi verified

Postingan Bulan ini: 12

Postingan Tahun ini: 28

Registered: Nov 25, 2021

Profle

Opini Papua

Pesan “Nabi Papua” Untuk Tanggal 1 Desember 2021   
Ada Dugaan Kecurangan Seleksi PPPK di Banyuwangi, Begini Modusnya
Pemilik Tempuh Jalur Hukum Setelah Satpol PP Tutup Sepihak Usaha Peternakan
Persiapan Porprov 2022, Tim Volly Putra Karangasem Bali Latih Tanding Bersama Tim Volly Putra Banyuwangi

Follow Us

Recommended Posts

Pengibaran Bendera Bintang Kejora Di Papua, Apa Masalahnya?
Pesan “Nabi Papua” Untuk Tanggal 1 Desember 2021   
Tony Rosyid: Dukung Anies, Elektabilitas Nasdem Naik
Siaran Pers JDRP2-007/sp/XI/2021
Harta Alam Melegalkan Kematian 'OAP'